Ketika Puluhan Artist Lokal dan Internasional Mengeroyok Satu Tembok WDZG! Playground

Tembok WADEZIG! Playground kembali digunakan untuk menggelar event graffiti jamming bertaraf internasional, kali ini bertajuk “Pressure Drops”. Dinisiasi oleh Drips n Drops bekerja sama dengan WADEZIG!, Montana Cans, dan Tembok Bomber, event ini berlangsung selama dua hari dari tanggal 13 hingga 14 Mei 2017. Satu tembok besar 15 x 10 meter dikeroyok oleh 18 street artist dari Indonesia dan Malaysia. Artist Indonesia yang terlibat antara lain Urbs, Abers, Dstr, Fels, Riper, Eeze Freeze, 14K, The Yellow Dino, Bedlam, Noah, dan Semproel. Sedangkan Malaysia diwakili Siek, Escape. Asmoe, Pakey, dan Reeze.

Dalam rilis yang kami terima, Pressure Drops diselenggarakan dengan maksud untuk merayakan seni dan budaya. Menyatukan talenta artist lokal dan internasional untuk menggambar bersama di satu tembok besar. Dengan misi merangkul seluruh elemen graffiti dan mengenalkannya sebagai sesuatu yang positif, menyatukan komunitas, dan membawa graffiti ke level berikutnya.

Tepat jam 9 pagi semua artist begitu bersemangat untuk berkarya. Para artist ditantang untuk mewarnai Tembok dengan background kota berawan ungu. Terlihat kereta sedang melintas dan papan iklan/billboard yang terbengkalai. Kota tersebut tampak kusam dengan tembok retak, tidak terawat, dan penuh coretan serampangan.

Space tembok telah dibagi, terdapat tiga area untuk menggambar yaitu area atas, tengah dan bawah. Dengan bantuan scaffolding, para artist menuju spotnya masing-masing dan mulai menggambar. Tanpa rasa takut mereka menaklukan ketinggian dan membuat karya layaknya hal tersebut dilakukan di bawah tanah. Dari letter ke character, mereka menunjukan skill dan membuat karya terbaiknya. Kota yang tadinya kusam kini mulai berwarna.

Waktu demi waktu dilalui, menjelang petang beberapa gambar telah rampung, kita mulai bisa melihat apa yang dibuat para artist. Sebagai contoh, artist Malaysia, Siek, membuat piece letter bergaya klasik warna ungu dan hijau, 14K sebagai wakil Indonesia membuat binatang godzilla. Ada juga Semproel yang membuat character kadal, atau Abers yang menggambari kereta dengan wildstyle-nya. Gambar yang belum selesai dengan sangat terpaksa dilanjutkan besok karena hari mulai gelap.

Hari kedua, targetnya adalah melakukan finishing gambar dan memotret full wall. Artist tersisa seperti Bedlam dan The Yellow Dino yang masih harus menyelesaikan gambar mereka. Sisanya menjadi penonton dan saling berbincang satu sama lain. Setelah semua gambar rampung, waktunya menurunkan scaffolding dan berpose didepan tembok yang kini dipenuhi gambar.

Semoga lebih banyak lagi event serupa Pressure Drops yang bisa menyatukan artist lokal dan internasional dalam satu tembok. Dengan harapan agar mereka bisa saling bertukar informasi dan melebarkan pertemanan. Juga agar makin banyak karya-karya keren yang menempel di tembok kota, Bandung khususnya.